
Pada tanggal 28 Agustus 2024, dilaksanakan sebuah workshop bertajuk “Lateral Thinking” yang diadakan bersama dosen dari Akademi Angkatan Laut. Workshop ini mengusung konsep penting dalam pengembangan pola pikir yang lebih fleksibel dan kreatif, yang sangat relevan bagi para prajurit TNI yang terbiasa dilatih dengan kedisiplinan tinggi dan sikap patuh terhadap perintah.
TNI, sebagai institusi militer yang sangat menekankan kedisiplinan dan kepatuhan, sering kali diidentikkan dengan pola pikir yang kaku dan terstruktur. Namun, hal ini tidak berarti bahwa prajurit TNI tidak boleh berpikir secara inovatif atau terbuka terhadap perubahan. Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan pentingnya lateral thinking atau berpikir lateral—yakni pendekatan yang mendorong seseorang untuk mencari solusi alternatif dari berbagai sudut pandang yang berbeda, bukan hanya bergantung pada cara berpikir yang linier atau konvensional.
Lateral Thinking yang diperkenalkan oleh Edward de Bono menekankan kemampuan untuk berpikir di luar kebiasaan, melawan pola pikir yang terbatas, dan berusaha menemukan solusi yang lebih kreatif dalam menghadapi masalah. Dalam konteks TNI, kemampuan berpikir lateral sangat penting, terutama dalam menghadapi situasi yang kompleks dan dinamis yang mungkin tidak dapat diselesaikan dengan metode tradisional atau pola pikir yang kaku.
Meskipun TNI telah terbiasa dengan pendekatan yang sangat terstruktur, workshop ini menyadarkan bahwa perubahan yang cepat di dunia modern menuntut kemampuan untuk tetap waspada dan responsif terhadap berbagai tantangan yang muncul. Lateral Thinking tidak bertujuan untuk menggantikan prinsip kedisiplinan yang sudah ada, melainkan untuk menambah wawasan dengan memperkenalkan cara berpikir yang lebih fleksibel dan inovatif. Hal ini dapat membantu prajurit TNI untuk lebih cepat beradaptasi dengan situasi yang tidak terduga dan mencari solusi yang lebih efektif dalam menghadapi masalah.
Salah satu tujuan utama dari workshop ini adalah untuk mengembangkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap setiap perubahan. Dengan meningkatkan kemampuan berpikir yang kreatif, prajurit TNI diharapkan dapat lebih sigap dalam menyikapi berbagai situasi, baik dalam tugas militer sehari-hari maupun dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun lateral thinking mengajak kita untuk berpikir secara lebih bebas dan terbuka, hal ini tidak mengabaikan prinsip dasar dalam pengembangan diri dan kedisiplinan. Sebaliknya, workshop ini justru memperkuat kedua aspek tersebut dengan memberi tambahan alat dan perspektif yang dapat membantu prajurit menghadapi perubahan dengan lebih baik, tanpa mengesampingkan keteguhan dalam menjalankan perintah dan tugas yang diemban.
